Jumat, 19 Januari 2018

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN EFEKTIF DI SEKOLAH/MADRASAH

BAB I
PENDAHULUAN
      A.    Lata Belakang
            Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah menetapkan bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yang perlu dimiliki kepala sekolah, yaitu: Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial. Dalam rangka pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah yang profesional, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun naskah materi diklat pembinaan kompetensi untuk calon kepala sekolah/kepala sekolah.

     B.     Rumusan Masalah
1.         Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan pendidikan?
2.         Apa saja gaya dan fungsi kepemimpinan?
3.         Apa yang dimaksud kepemimpinan kepala sekolah efektif?

     C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan pendidikan.
2.      Untuk mengetahui gaya dan fungsi kepemimpinan.
3.      Untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah efektif.












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kepemimpinan Pendidikan
 Kepemimpinan adalah terjemahan dari kata “leadership” yang berasal dari kata “leader”. Pemimpin “leader” adalah orang yang memimpin, sedangkan kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien. “ hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan setidaknya mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya, adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin, dan pengikut berinteraksi.[2]
Adapun menurut para ahli mendefinisikan pengertian kepemimpinan, menurut William Chohen kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain untuk melakukan unjuk kerja maksimun guna menyelesaikan tugas, mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan sebuah proyek. Menurut Robbian, kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Jadi kepemimpinan ini sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, (proses, perbuatan, dan cara mendidik).[3] Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang teratur dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. Sendangkan menurut para pakar pendidikan, pendidikan diartikan sebagai berikut:
1.         MJ. Langeveld
Pendidikan adalah pemberian bimbingan dan bantuan rohani bagi yang masih memerlukan. Jadi kalo sudah tidak lagi membutuhkan pertolongan atau bimbingan tidak lagi perlu didik.
2.         Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.[4]
Dari uraian diatas kepemimpinan pendidikan adalah sebagai suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan mengerakkan orang lain yang ada hubunganya dengan ilmu pendidikan, pelaksanaan pendidikan, dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat efisien dan efektif didalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan, dan pengajaran. Penulis berpendapat bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi, mendorong, dan menuntun orang lain atau kelompok lain agar kegiatan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

B.     Gaya dan Fungsi Kepemimpinan
      1.      Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpin dibagi menjadi enam sebagai berikut: [5]
a.       Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya kepemimpinan ini mendasakan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Setiap pemerintah dan kebijakan diterpkan tanpa ada konsutasi dengan bawahan.
Pemimpin otokratis adalah:
1)        Organisasi sekolah sebagai milik pribadi, hanya pemimpin yang bisa merencanakan, menentukan kebijakan dan mengetaui tujuan organisasi, sehingga pemimpin selalu menganggap sama antara tujuan pribadi dan tujuan organisasi.
2)        Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari bawahannya.
3)        Dalam mendisiplinkan anggota cenderung menggunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan hukuman.
b.      Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan demokrai yang pelaksanaannya disebut juga kepemimpinan partisipasi. Kepemimpinan partisipasi adalah suatu cara memimpin yang kekuatannya terletak pada partisipasi aktif setiap warga/kelompok.
Gaya kepemimpinan ini dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah yang diwujudkan dalam setiap jenjang dan didalam unit masing-masing. Dengan demikian, keputusan-keputusan dan perwujudannya dalam suasana disiplin merupakan hasil musyawarah dan mufakat sehingga anggota dalam menjalankan tugas tidak merasakan hal tersebut sebagai paksaaan, tetapi termotivasi untuk mensukseskan sebagai tanggungjawab bersama.
c.       Gaya Kepemimpinan Pseudo Demokratis
Jenis kepemimpinan ini sebenanya bersikap otokratis, tetapi ia pandai memberikan kesan seolah-olah demokratis. Ia berbuat seolah-olah semua rencana, program dan keputusan-keputusannya berasal dari dan milik kelompok, pada hal semua itu adalah kehendakya sendiri. Ia berusaha selalu menarik perhatian agar disukai orang lain.  Sikapnya dibuat sopan, ramah dan suka sekali membicarakan soal demokrasi. Ia pandai bergaul dan berusaha tahu kelemahan oranglain untuk dijadikan senjata agar oaring lain tersebut segan padanya.
Dalam suatu rapat sekolah, ia seakan-akan memperhatikan saran dan pendapat kelompok walaupun akhirnya saran dan pendapat tersebut tidak digunakan. Karena sikap yang dibuat ramah itu, maka anggotanya sgan menentangnya dan kalaupun ada yang sepaham cenderung untuk diamsaja.
d.      Gaya Kepemimpinan Laissez Faire
Gaya kepemimpinan ini sang pemimpin praktis tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidakberpartisipasi sedikitpundalamkegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggungjawab harus dilakukanoleh bawahan sendiri. Kepemimpinan ini dasarnya tidak melakukan kegiatan dengan cara apapun.  Kedudukan pemimpin hanya sebagai symboldan formalitas. Di mana seorang pemimpin mempunyai keyakinan bahwa dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada bawahan, maka usahanya akan cepat tercapai. Pucuk kepemimpinannya juga hanya berfungsi sebagai penasehat, dengan memberikan kesempatan bertanya bila mana perlu
Dengan demikian sepanjang orang yang dipimpin merasa mampu mengambil keputusan sendiri dan melaksanakan sendiri pula, maka pemimpin tidak perlu mengambil tindakan. Kebebasan diberikan menurut kemauan orang-oran yang dipimpin. Akibatnya segalanya tidak terarah dan pekerjaan menjadi simpang siur. Wewenang tidak jelas, tanggungjawab menjadi kacau, bahakan setiap anggota saling menunggu dan melempar tanggungjawab, dalam kepemimpinan ini biasanya organisasi juga tidak jelas da kabur, segala kegiatan dilakukan tanpa ada rencana yang matang dan tanpa adanya pengawasan.
e.       Gaya Kepemimpinan Afiliatif  (Membangun Hubungan)  
Keterbukaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi baik perseorang maupun organisasi merupakan gaya seorang pemimpin afiliatif. Gaya kepemimpinan ini cenderung lebeh menekankan pada harmonisasi penguatan moral, memperbaiki komunikasi dan kepercayaan yang dibangun.
Karakteristik gaya kepemimpinan ini adalah empati. Empati seorang pemimpin afiliatif memungkinkan bawahannya tetapsenang karena ia peduli pada orang secara keseluruhan dan tidak hanya pada tanggung jawab pekerjaan mereka. Pemimpin afiliatifmenjadi penentu ketika perlu pengelolaan konflik terhadap upaya menyatukan perbedaan-perbedaan yang muncul atau menyatukan orang-orang yang terlibat konflikke dalam kelompok kerja yang harmonis.
f.       Gaya Kepemimpinan Pembimbing
Gaya pemimpin pembimbing  adalah selalu melakukan pembicaraan secara personal atau dari hati kehatidengan bawahannya. Dia tidak sekedar membicarakan kegiatan sehari-hari diorganisasi tapi juaga mengetuk hati seseorang dengan lebih dalam dengan bertanya apa impian-impiannya, tujuan hidupnya dan harapan karirnya. Para pemimpin umumnya jarang menunjukkan gaya pembimbing  ini karena berbagai alasan yang secara rasional bisa di benarkan.
Gaya pembimbing ini mampu memberikan respon emosi positif dan hasil yang lebih baik terhadap perkembangan organisasi secara menyeluruh. Karena dengan gaya ini akhirnya terbentuk ikan dan kepercayan yang tinggi, mereka benar-benar dibutuhkan dan tidak  hanya dijadikan alat untuk menyelesaikan pekerjaan.
Adapun karakteristik gaya kepemimpinan pembimbng adalah kesadaran diri dan empati merupakan kecerdasan emosi yang memungkinkan seseorang pemimpin bertindak sebagai penasehat, menggali tujuan, dan nilai-nilai bawahannya dengan secara tekun membantu mereka untuk mengembangkannya sendiri. Kemampuan pemimpin mendengarkan keluhan masalah yang dihadapi bawahannya akan membangun pola hubungan yang tidak hanya sekedar “saya atasan” dan “kamu bbwahan”. Pembimbng yang baik akan menginformasaikan dan mengkomunikasikan sesuatu yang sebelumnya tidak didasari oleh bawahannya bahwa potensi yang dimiliki bawahan tersebut akan berdampak pada kekeingina yang kuat untuk melakukan yang terbaik. Kepedulian yang tinggi secara tidak langsung menjadi suntikan motivasi pada bawahan untuk memiliki standar kinerja yang tinggi dan merasa bertanggungjawab atas pekerjaan yang dilakukan.
        2.      Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan yang efekif hanya akan tewujud apabila dijlankan sesuai fungsinya. Fungsi kepemiminan ini behubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok atau organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam bukan di luar situasi itu. Pemimpin berusaha menjadi bagian di dalam situasi sosial kelompok atau organisasi.
Dengan demikian akan terbuka peluang bagi pemimpin untuk mewujudkan fungsi-fungsi kepemimpinan ejalan dengan situasi sosial yang dikembangkannya. Oleh karena itu fungsi-fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antar individu dalam situasi sosial dalam kelompok atau oganisasi. Fungsi kepemimpinan itu memiliki dua dimensi,yaitu; a) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktivitas pemimpin yang terlihat dalam tanggapan orang-orang yang dipimpinnya. b) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan pemimpin. Berdasarkan kedua dimensi itu, selanjutnnya secara operasional dapat dibedakan lim fungsi pokok kepemimpinannya. Kelima fungsi kepemimpinan itu adalah:Fungsi intruktif. Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan di mana agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Fungsi ini berarti juga keputusan yang ditetapkan pimpinan tidak akan ada artinya tanpa mewujudkan atau menerjemahkannya menjadi perintah. Selanjutnya perintah tidak akan ada artinya, jika tidak dilaksanakan. Oleh karena itu pemimpin intinya adalah kemampuan menggerakkan orang lain agar melaksanakan perintah, yang bersumber dari keputusan yang telah ditetapkan. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan meggerakkan dan memotivasi orang lain agar melaksanakan perintah. Untuk itu perintah harus jelas, baik mengenai apa yang harus dikerjakan maupun dari segi bahwa sesuai dengan tingkat kemampuan orang yang menerima dan harus melaksanakannya.
Fungsi konsultatif. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan, yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi ini dapat dilakukannya secara terbatas hanya dengan orang-orang tertentu saja, yang dinilainya mempunyai  berbagai bahan informasi yang diperlukannya dalam menetapkan keputusan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pemimpin, akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung efekif. Fungsi konsultatif ini mengajarkan seorang pemimpin belajar menjadi pendengar yang baik, yang biasanya tidak mudah melaksanakannya, mengingat pemimpin lebih banyak menjalankan peranan sebagai pihak yang didengarkan. Untuk itu pemimpin harus meyakinkan dirinya bahwa dari siapapun juga selalu mungkin diperoleh gagasan, aspirasi, saran dan pendapat yang konstruktif bagi pengembangan kepemimpinan.Fungsi partisipasi. Fungsi ini tidak berlangsung dan besifat dua arah, tetapi juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efekif, antara pemimpin  dan sesama orang yang dipimpin. Dalam menjalankan dipimpinnya, baik dalam mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompoknya memperoleh dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi atau jabatan masing-masing. Partisipasi tidak berarti bebas tapi dilakukan secara terkendali dan terarah berubah kerjasama dengan tidak mencampuri atau tugas pokok orang lain. Dari sisi lain fungsi partisipasi yaitu kesediaan pemimpin untuk tidak berpangku tangan pada saat-saat orang yang dipimpin melaksanakan keputusannya. Pemimpin tidak boleh sekedar mampu membuat keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya, tetapi juga ikut dalam proses pelaksanaannya, keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksanaannya.
Fungsi delegasi. Fungsi ini dilaksanakan dengan memberi pelimpang wewenang membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pemimpin. Fungsi ini mengharuskan pemimpin harus memilah-milah tugas pokok organisasinya dan mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat dilimpahkan pada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpi karena kemajuan kelompok atau organisasi tidak mungkin diwujudkan sendiri. Uraian-uraian tersebut diatas menunjukkan pada dasarnya menunjukkan bahwa pendelegasian harus diberikan pada orang-orang kepercayaan. Pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpin karena kemajuan dan perkembangan kelompok atau organisasinya tidak mungkin diwujudkan sendiri. Pemimpin sendiri tidak akan dapat berbuat banyak dan  bahkan tidak ada artinya sama sekali. Oleh karena itu sebagian wewenangnya perlu didelegasikan pada para pembantunya, agar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Fungsi pengendalian. Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang efektif mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan ada koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan , koordinasi, pengawasan. Dalam kegiatan tersebut pemimpin harus aktif, namun tidak mustahil untuk dilakukan dengan mengikutsertakan anggota kelompok atau organisasinya. Bimbingan dan pengarah yang dilakukan selama kegiatan kelompok atau organisasi berlangsung pada dasarnya. Dengan melakukan kegiatan tersebut berarti pemimpin berusaha mencegah terjadinya kekeliruan atau kesalah setiap unit atau perseorangan dalam melaksanakan kerjanya atau perintah oleh pemimpin. Kegiatan dilakukan dengan cara meluruskan setiap peyimpangan, agar secara terus-menerus terarah pada tujuan. Pengendalian dilakukan dengan mencegah anggota berfikir atau berbuat sesuatu yang cenderung merugikan kepentingan bersama atau organisasi. Dalam suatu organisasi, tugas dan fungsi pemimpin sangat strategis dalam hal-hal berikut; 1) Penyelenggaaan atau pelaksana organisasi, artinya berfungsi sebagai eksekutif manajemen. 2) Penanggung jawab kemajuan dan kemunduran organisasi. 3) Pengelolaan organisasi. 4) Professional didalam bidangnya, artinya memiliki keahlian dalam memanaj organisasi. 5) Penguasa yang berwenang mendelegasikan tugas-tugasnya kepada bawahannya. 6) Perencana kegiatan. 7) Pengambil keputusan. 8) Penentu kesejahteraan bawahannya. 9) Pembentuk kerja sama antar pegawai. 10) Suri tauladan.
C.    Kepemimpinan Pendidikan Efektif
Kajian-kajian karakteristik kepemimpinan efektif berkembang seiring dengan perkembangan dinamika organisasi. Dalam studi efektivitas orang cenderung ditemukan keragaman karakteristik kepemimpinan efektif. Semula kepemimpinan efektif identik dengan kepemimpinan birokratik dan ilmiah, tetapi sekarang ditemukan strategi kepemimpinan baru dengan menempatkan aspek sosial budaya sebagai faktor yang menciptakan efektivitas organisasi. Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pendidikan tidak lepas dari kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sumber daya pendidikan. Sejumlah kajian tehadap organisasi sekolah memberi temuan tentang besarnya konstribusi kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan perbaikan efektifitas sekolah.
1.         Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Efektif
Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif sangat menentukan keberhasilan sekolah. Sekolah yang efektif atau sukses hampir selalu ditentukan kepemimpinan kepala sekolah sebagai kunci kesuksesan (Lipham J.M., 1985). Kepala sekolah tidak hanya memberi layananan saja tetapi juga memelihara segala sesuatu secara lancar dan terus-menerus dengan memelihara kerukunan, mencurahkan waktu, energi, intelek, dan emosi untuk memperbaiki sekolah.
Kriteria kepala sekolah yang efektif ialah mampu menciptakan atmosfir kondusif bagi murid-murid untuk belajar para guru agar terlibar dan berkembang secara personal dan profesional dan seluruh masyarakat memberikan dukungan dan harapan yang tinggi. Jika seorang kepala sekolah sudah dapat mengupayakan sekolah memenuhi kriteria diatas maka bisa disebut kepala sekolah efektif dan sekolah yang dikelolanya disebut sukses (succes full school).
Menurut Mulyasa (2003). Kriteria kepemimpinan kepala sekolah yang efektif adalah sebagai berikut:
a.         Mampu meberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif.
b.        Dapat menjalankan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
c.         Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat, sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
d.        Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah.
e.         Mampu bekerja dengan tim manajemen sekolah.
f.         Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.[6]
Kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan. Sehubung dengan MBS kepala sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektifitas kinerjanya, kinerja kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitanya dengan MBS adalah segala upaya yang dilakukan dengan hasil yang dapat dicapai untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.[7]
2.         Kepemimpinan Pembelajaran Efektif
Kepemimpinan pembelajaran efektif adalah kepemimpinan yang lebih memfokuskan/menekankan pada pembelajaran agar lebih efektif. Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran efektif adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan pontensinya. Kepemimpinan pembelajaran efektif sangat penting dan signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.
Kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh:
a.         Figur kepala sekolah yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran.
b.        Kultur pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah.
c.         Sistem/struktur yang utuh dan benar, perilaku kepala sekolah, guru, dan karyawan berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan keefektifan pembelajar.[8]
Komponen-komponen kepemimpinan pembelajaran meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar disekolah. Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan di sekolah karena mampu:
1.        Meningkatkan prestasi belajar siswa secara signifikan.
2.        Mendorong dan mengarahkan warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
3.        Memfokuskan kegiatan-kegiatan warga sekolah untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah
4.        Membangun komunitas belajar warga dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning scholl).
Dengan begitu tujuan kepemimpinan pembelajaran efektif adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar terjadi peningkatan prestasi belajar, kepuasan belajar, motivasi belajar, keingintahuan, kreativitas, inovasi, jiwa kewirausahaan, dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan, tekonologi, dan seni berkembang dengan sangat pesat.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kepemimpinan pendidikan adalah sebagai suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan mengerakkan orang lain yang ada hubunganya dengan ilmu pendidikan, pelaksanaan pendidikan, dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat efisien dan efektif didalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan, dan pengajaran. Penulis berpendapat bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi, mendorong, dan menuntun orang lain atau kelompok lain agar kegiatan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Gaya kepemimpin ada enam yaitu gaya kepemimpinan otokratis, gaya kepemimpin demokratis, gaya kepemimpinan pseudo demokratis, gaya kepemimpinan laissez fair, gaya kepemimpinan aliatif, gaya kepemimpinan pembimbing.




DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofyan dan Muhammad Rohmandan. 2015. Manajemen Pendidikan:
          Analysis dan Solusi Terhadap Kinerja Manajemen Kelas dan Strategi
          Pengajaran yang Efektif. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.
          2007. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan sumber daya
Mulyadi, Hadi. 2010. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan
          Budaya Mutu. Malang: UIN Maliki Press.
Mulyono, M, A, Education Leadership, (Malang: UIN Maliki Press.
E, Mulyasa. 2005  Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
          manusia di sekolah dasar Direktorat Tenaga Kependidikan. Jakarta
Rodliyah, St. 2015. Manajemen Pendidikan. Jember: IAIN Jember Press
__________. 2013. Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Jember: STAIN Jember
          Press.
__________. 2015. Manajemen Pendidikan Sebuah Konsep dan Aplikasi. Jember:
          IAIN Jember Press.



[1] Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan sumber daya manusia di sekolah dasar Direktorat Tenaga Kependidikan. (Jakarta, 2007).  4
[2] St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan, (Jember: IAIN Jember Press, 2015), hlm 151-152.
[3] Muhammad Rohmandan Sofyan Amri, Manajemen Pendidikan: Analysis dan Solusi Terhadap Kinerja Manajemen Kelas dan Strategi Pengajaran yang Efektif, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2015), hlm 13.
[4] St. Rodliyah, Pendidikan dan Ilmu Pendidika, (Jember: STAIN Jember Press, 2013), hlm 13
[5] St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan Sebuah Konsep dan Aplikasi, (Jember: IAIN Jember Press,2015), 169-174
[6] H. Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm 68-70.
[7] Mulyono, M, A, Education Leadership, (Malang: UIN Maliki Press, 2009), hlm 11.
[8] Mulyasa, E,  Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005)

Tidak ada komentar:

GAJI GURU HONORER DI SEKOLAH NEGERI DAN SWASTA

BERAPA GAJI GURU HONORER? Kegiatan mendidik anak merupakan tugas yang mulia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. anak tidak hanya didid...