BAB I
PENDAHULUAN
A. Lata Belakang
Penjaminan
mutu merupakan kata kunci yang menjadi
fenomena dalam dunia pendidikan, hal ini terjadi seiring dengan terbitnya
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun
2005 tentang Standar nasional pendidikan.
Implementasi dari kedua payung hukum
tersebut di lakukan oleh pemerintah, antara lain dengan terbitnya Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007
tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah. Salah satu isi dari
PerMendiknas tersebut adalah kompotensi manajerial, kepemimipinan merupakan
standar kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah. Disamping itu
pelaksanaan Otonomi Daerah mengharuskan kepala sekolah untuk mampu menyesuaikan
dengan situasi dan kondisi peraturan yang berlaku di daerah masing masing.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007
tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah menetapkan bahwa ada 5 (lima)
dimensi kompetensi yang perlu dimiliki kepala sekolah, yaitu: Kepribadian,
Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial. Dalam rangka pembinaan
kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah yang profesional, Direktorat
Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun naskah materi diklat pembinaan kompetensi
untuk calon kepala sekolah/kepala sekolah.
Atas
dasar pokok pikiran tersebut maka kepala sekolah harus mempunyai ketrampilan
dalam bidang kepemimpinan.[1]
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan kepemimpinan pendidikan?
2.
Apa saja gaya
dan fungsi kepemimpinan?
3.
Apa yang
dimaksud kepemimpinan kepala sekolah efektif?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk
mengetahui pengertian kepemimpinan pendidikan.
2. Untuk
mengetahui gaya dan fungsi kepemimpinan.
3. Untuk
mengetahui kepemimpinan kepala sekolah efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan adalah terjemahan dari kata
“leadership” yang berasal dari kata “leader”. Pemimpin “leader” adalah orang
yang memimpin, sedangkan kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai kemampuan untuk menggerakkan,
mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing,
menyuruh, memerintah, melarang, serta membina dengan maksud agar manusia
sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi
secara efektif dan efisien. “ hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan
setidaknya mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan
karakteristiknya, adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat
pemimpin, dan pengikut berinteraksi.[2]
Adapun menurut para ahli
mendefinisikan pengertian kepemimpinan, menurut William Chohen kepemimpinan
adalah seni mempengaruhi orang lain untuk melakukan unjuk kerja maksimun guna
menyelesaikan tugas, mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan sebuah proyek.
Menurut Robbian, kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok
orang agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Jadi kepemimpinan ini sebagai
kegiatan untuk mempengaruhi orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan
organisasi.
Pendidikan menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (1989), pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan, (proses, perbuatan, dan cara mendidik).[3] Pendidikan
adalah suatu usaha sadar yang teratur dan sistematis, yang dilakukan oleh
orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai
sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. Sendangkan menurut para
pakar pendidikan, pendidikan diartikan sebagai berikut:
1.
MJ. Langeveld
Pendidikan adalah pemberian bimbingan dan bantuan
rohani bagi yang masih memerlukan. Jadi kalo sudah tidak lagi membutuhkan
pertolongan atau bimbingan tidak lagi perlu didik.
2.
Ki Hajar
Dewantara
Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.[4]
Dari uraian diatas kepemimpinan
pendidikan adalah sebagai suatu kemampuan dan proses mempengaruhi,
mengkoordinir, dan mengerakkan orang lain yang ada hubunganya dengan ilmu
pendidikan, pelaksanaan pendidikan, dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang
dijalankan dapat efisien dan efektif didalam pencapaian tujuan-tujuan
pendidikan, dan pengajaran. Penulis berpendapat bahwa kepemimpinan pendidikan
adalah suatu kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi, mendorong, dan
menuntun orang lain atau kelompok lain agar kegiatan pendidikan dapat tercapai
secara efektif dan efisien.
B.
Gaya
dan Fungsi Kepemimpinan
1.
Gaya Kepemimpinan
Gaya
kepemimpin dibagi menjadi enam sebagai berikut: [5]
a. Gaya
Kepemimpinan Otokratis
Gaya
kepemimpinan ini mendasakan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus
dipatuhi. Setiap pemerintah dan kebijakan diterpkan tanpa ada konsutasi dengan
bawahan.
Pemimpin
otokratis adalah:
1)
Organisasi
sekolah sebagai milik pribadi, hanya pemimpin yang bisa merencanakan,
menentukan kebijakan dan mengetaui tujuan organisasi, sehingga pemimpin selalu
menganggap sama antara tujuan pribadi dan tujuan organisasi.
2)
Tidak mau
menerima kritik, saran dan pendapat dari bawahannya.
3)
Dalam
mendisiplinkan anggota cenderung menggunakan pendekatan yang mengandung unsur
paksaan dan hukuman.
b. Gaya
Kepemimpinan Demokratis
Gaya
kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan demokrai yang pelaksanaannya
disebut juga kepemimpinan partisipasi. Kepemimpinan partisipasi adalah suatu
cara memimpin yang kekuatannya terletak pada partisipasi aktif setiap
warga/kelompok.
Gaya
kepemimpinan ini dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah yang
diwujudkan dalam setiap jenjang dan didalam unit masing-masing. Dengan
demikian, keputusan-keputusan dan perwujudannya dalam suasana disiplin
merupakan hasil musyawarah dan mufakat sehingga anggota dalam menjalankan tugas
tidak merasakan hal tersebut sebagai paksaaan, tetapi termotivasi untuk
mensukseskan sebagai tanggungjawab bersama.
c. Gaya
Kepemimpinan Pseudo Demokratis
Jenis
kepemimpinan ini sebenanya bersikap otokratis, tetapi ia pandai memberikan
kesan seolah-olah demokratis. Ia berbuat seolah-olah semua rencana, program dan
keputusan-keputusannya berasal dari dan milik kelompok, pada hal semua itu
adalah kehendakya sendiri. Ia berusaha selalu menarik perhatian agar disukai
orang lain. Sikapnya dibuat sopan, ramah
dan suka sekali membicarakan soal demokrasi. Ia pandai bergaul dan berusaha
tahu kelemahan oranglain untuk dijadikan senjata agar oaring lain tersebut
segan padanya.
Dalam suatu
rapat sekolah, ia seakan-akan memperhatikan saran dan pendapat kelompok
walaupun akhirnya saran dan pendapat tersebut tidak digunakan. Karena sikap
yang dibuat ramah itu, maka anggotanya sgan menentangnya dan kalaupun ada yang
sepaham cenderung untuk diamsaja.
d. Gaya
Kepemimpinan Laissez Faire
Gaya
kepemimpinan ini sang pemimpin praktis tidak memimpin, dia membiarkan
kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin
tidakberpartisipasi sedikitpundalamkegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan
tanggungjawab harus dilakukanoleh bawahan sendiri. Kepemimpinan ini dasarnya
tidak melakukan kegiatan dengan cara apapun.
Kedudukan pemimpin hanya sebagai symboldan formalitas. Di mana seorang
pemimpin mempunyai keyakinan bahwa dengan memberikan kesempatan yang
seluas-luasnya kepada bawahan, maka usahanya akan cepat tercapai. Pucuk
kepemimpinannya juga hanya berfungsi sebagai penasehat, dengan memberikan
kesempatan bertanya bila mana perlu
Dengan demikian
sepanjang orang yang dipimpin merasa mampu mengambil keputusan sendiri dan
melaksanakan sendiri pula, maka pemimpin tidak perlu mengambil tindakan.
Kebebasan diberikan menurut kemauan orang-oran yang dipimpin. Akibatnya
segalanya tidak terarah dan pekerjaan menjadi simpang siur. Wewenang tidak
jelas, tanggungjawab menjadi kacau, bahakan setiap anggota saling menunggu dan
melempar tanggungjawab, dalam kepemimpinan ini biasanya organisasi juga tidak
jelas da kabur, segala kegiatan dilakukan tanpa ada rencana yang matang dan
tanpa adanya pengawasan.
e. Gaya
Kepemimpinan Afiliatif (Membangun
Hubungan)
Keterbukaan
terhadap berbagai masalah yang dihadapi baik perseorang maupun organisasi
merupakan gaya seorang pemimpin afiliatif. Gaya kepemimpinan ini cenderung
lebeh menekankan pada harmonisasi penguatan moral, memperbaiki komunikasi dan
kepercayaan yang dibangun.
Karakteristik
gaya kepemimpinan ini adalah empati. Empati seorang pemimpin afiliatif memungkinkan
bawahannya tetapsenang karena ia peduli pada orang secara keseluruhan dan tidak
hanya pada tanggung jawab pekerjaan mereka. Pemimpin afiliatifmenjadi penentu
ketika perlu pengelolaan konflik terhadap upaya menyatukan perbedaan-perbedaan
yang muncul atau menyatukan orang-orang yang terlibat konflikke dalam kelompok
kerja yang harmonis.
f. Gaya
Kepemimpinan Pembimbing
Gaya pemimpin
pembimbing adalah selalu melakukan
pembicaraan secara personal atau dari hati kehatidengan bawahannya. Dia tidak
sekedar membicarakan kegiatan sehari-hari diorganisasi tapi juaga mengetuk hati
seseorang dengan lebih dalam dengan bertanya apa impian-impiannya, tujuan
hidupnya dan harapan karirnya. Para pemimpin umumnya jarang menunjukkan gaya
pembimbing ini karena berbagai alasan
yang secara rasional bisa di benarkan.
Gaya pembimbing
ini mampu memberikan respon emosi positif dan hasil yang lebih baik terhadap
perkembangan organisasi secara menyeluruh. Karena dengan gaya ini akhirnya
terbentuk ikan dan kepercayan yang tinggi, mereka benar-benar dibutuhkan dan
tidak hanya dijadikan alat untuk
menyelesaikan pekerjaan.
Adapun
karakteristik gaya kepemimpinan pembimbng adalah kesadaran diri dan empati
merupakan kecerdasan emosi yang memungkinkan seseorang pemimpin bertindak sebagai
penasehat, menggali tujuan, dan nilai-nilai bawahannya dengan secara tekun
membantu mereka untuk mengembangkannya sendiri. Kemampuan pemimpin mendengarkan
keluhan masalah yang dihadapi bawahannya akan membangun pola hubungan yang
tidak hanya sekedar “saya atasan” dan “kamu bbwahan”. Pembimbng yang baik akan
menginformasaikan dan mengkomunikasikan sesuatu yang sebelumnya tidak didasari
oleh bawahannya bahwa potensi yang dimiliki bawahan tersebut akan berdampak
pada kekeingina yang kuat untuk melakukan yang terbaik. Kepedulian yang tinggi
secara tidak langsung menjadi suntikan motivasi pada bawahan untuk memiliki
standar kinerja yang tinggi dan merasa bertanggungjawab atas pekerjaan yang
dilakukan.
2.
Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan
yang efekif hanya akan tewujud apabila dijlankan sesuai fungsinya. Fungsi
kepemiminan ini behubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan
kelompok atau organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap
pemimpin berada di dalam bukan di luar situasi itu. Pemimpin berusaha menjadi
bagian di dalam situasi sosial kelompok atau organisasi.
Dengan
demikian akan terbuka peluang bagi pemimpin untuk mewujudkan fungsi-fungsi
kepemimpinan ejalan dengan situasi sosial yang dikembangkannya. Oleh karena itu
fungsi-fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan
dalam interaksi antar individu dalam situasi sosial dalam kelompok atau
oganisasi. Fungsi kepemimpinan itu memiliki dua dimensi,yaitu; a) Dimensi yang
berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau
aktivitas pemimpin yang terlihat dalam tanggapan orang-orang yang dipimpinnya.
b) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan
orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau
organisasi, yang dijabarkan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan
pemimpin. Berdasarkan kedua dimensi itu, selanjutnnya secara operasional dapat
dibedakan lim fungsi pokok kepemimpinannya. Kelima fungsi kepemimpinan itu
adalah:Fungsi intruktif. Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu
arah. Pemimpin sebagai komunikator yang menentukan apa, bagaimana, bilamana,
dan di mana agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Fungsi ini berarti
juga keputusan yang ditetapkan pimpinan tidak akan ada artinya tanpa mewujudkan
atau menerjemahkannya menjadi perintah. Selanjutnya perintah tidak akan ada
artinya, jika tidak dilaksanakan. Oleh karena itu pemimpin intinya adalah
kemampuan menggerakkan orang lain agar melaksanakan perintah, yang bersumber
dari keputusan yang telah ditetapkan. Berdasarkan penjelasan diatas dapat
disimpulkan bahwa kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan meggerakkan
dan memotivasi orang lain agar melaksanakan perintah. Untuk itu perintah harus
jelas, baik mengenai apa yang harus dikerjakan maupun dari segi bahwa sesuai
dengan tingkat kemampuan orang yang menerima dan harus melaksanakannya.
Fungsi
konsultatif. Pada tahap pertama dalam usaha
menetapkan keputusan, pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan, yang
mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi
ini dapat dilakukannya secara terbatas hanya dengan orang-orang tertentu saja,
yang dinilainya mempunyai berbagai bahan
informasi yang diperlukannya dalam menetapkan keputusan. Dengan menjalankan
fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pemimpin, akan mendapat
dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung
efekif. Fungsi konsultatif ini mengajarkan seorang pemimpin belajar menjadi
pendengar yang baik, yang biasanya tidak mudah melaksanakannya, mengingat
pemimpin lebih banyak menjalankan peranan sebagai pihak yang didengarkan. Untuk
itu pemimpin harus meyakinkan dirinya bahwa dari siapapun juga selalu mungkin
diperoleh gagasan, aspirasi, saran dan pendapat yang konstruktif bagi
pengembangan kepemimpinan.Fungsi partisipasi. Fungsi ini tidak berlangsung dan
besifat dua arah, tetapi juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang
efekif, antara pemimpin dan sesama orang
yang dipimpin. Dalam menjalankan dipimpinnya, baik dalam mengambil keputusan
maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompoknya memperoleh dan
kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang
dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi atau jabatan
masing-masing. Partisipasi tidak berarti bebas tapi dilakukan secara terkendali
dan terarah berubah kerjasama dengan tidak mencampuri atau tugas pokok orang
lain. Dari sisi lain fungsi partisipasi yaitu kesediaan pemimpin untuk tidak
berpangku tangan pada saat-saat orang yang dipimpin melaksanakan keputusannya.
Pemimpin tidak boleh sekedar mampu membuat keputusan dan memerintahkan
pelaksanaannya, tetapi juga ikut dalam proses pelaksanaannya, keikutsertaan
pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksanaannya.
Fungsi
delegasi. Fungsi ini dilaksanakan dengan memberi pelimpang
wewenang membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun
tanpa persetujuan dari pemimpin. Fungsi ini mengharuskan pemimpin harus
memilah-milah tugas pokok organisasinya dan mengevaluasi yang dapat dan tidak
dapat dilimpahkan pada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi pendelegasian
harus diwujudkan seorang pemimpi karena kemajuan kelompok atau organisasi tidak
mungkin diwujudkan sendiri. Uraian-uraian tersebut diatas menunjukkan pada dasarnya
menunjukkan bahwa pendelegasian harus diberikan pada orang-orang kepercayaan.
Pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpin karena kemajuan dan
perkembangan kelompok atau organisasinya tidak mungkin diwujudkan sendiri.
Pemimpin sendiri tidak akan dapat berbuat banyak dan bahkan tidak ada artinya sama sekali. Oleh
karena itu sebagian wewenangnya perlu didelegasikan pada para pembantunya, agar
dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Fungsi
pengendalian. Fungsi pengendalian bermaksud bahwa
kepemimpinan yang efektif mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah
dan ada koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan
bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan
bimbingan, pengarahan , koordinasi, pengawasan. Dalam kegiatan tersebut
pemimpin harus aktif, namun tidak mustahil untuk dilakukan dengan
mengikutsertakan anggota kelompok atau organisasinya. Bimbingan dan pengarah
yang dilakukan selama kegiatan kelompok atau organisasi berlangsung pada
dasarnya. Dengan melakukan kegiatan tersebut berarti pemimpin berusaha mencegah
terjadinya kekeliruan atau kesalah setiap unit atau perseorangan dalam
melaksanakan kerjanya atau perintah oleh pemimpin. Kegiatan dilakukan dengan
cara meluruskan setiap peyimpangan, agar secara terus-menerus terarah pada
tujuan. Pengendalian dilakukan dengan mencegah anggota berfikir atau berbuat
sesuatu yang cenderung merugikan kepentingan bersama atau organisasi. Dalam
suatu organisasi, tugas dan fungsi pemimpin sangat strategis dalam hal-hal
berikut; 1) Penyelenggaaan atau pelaksana organisasi, artinya berfungsi sebagai
eksekutif manajemen. 2) Penanggung jawab kemajuan dan kemunduran organisasi. 3)
Pengelolaan organisasi. 4) Professional didalam bidangnya, artinya memiliki
keahlian dalam memanaj organisasi. 5) Penguasa yang berwenang mendelegasikan
tugas-tugasnya kepada bawahannya. 6) Perencana kegiatan. 7) Pengambil
keputusan. 8) Penentu kesejahteraan bawahannya. 9) Pembentuk kerja sama antar
pegawai. 10) Suri tauladan.
C.
Kepemimpinan
Pendidikan Efektif
Kajian-kajian karakteristik
kepemimpinan efektif berkembang seiring dengan perkembangan dinamika
organisasi. Dalam studi efektivitas orang cenderung ditemukan keragaman
karakteristik kepemimpinan efektif. Semula kepemimpinan efektif identik dengan
kepemimpinan birokratik dan ilmiah, tetapi sekarang ditemukan strategi
kepemimpinan baru dengan menempatkan aspek sosial budaya sebagai faktor yang
menciptakan efektivitas organisasi. Tuntutan masyarakat terhadap kualitas
pendidikan tidak lepas dari kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sumber
daya pendidikan. Sejumlah kajian tehadap organisasi sekolah memberi temuan
tentang besarnya konstribusi kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan
perbaikan efektifitas sekolah.
1.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Efektif
Kepemimpinan kepala sekolah yang
efektif sangat menentukan keberhasilan sekolah. Sekolah yang efektif atau
sukses hampir selalu ditentukan kepemimpinan kepala sekolah sebagai kunci
kesuksesan (Lipham J.M., 1985). Kepala sekolah tidak hanya memberi layananan
saja tetapi juga memelihara segala sesuatu secara lancar dan terus-menerus
dengan memelihara kerukunan, mencurahkan waktu, energi, intelek, dan emosi
untuk memperbaiki sekolah.
Kriteria kepala sekolah yang
efektif ialah mampu menciptakan atmosfir kondusif bagi murid-murid untuk
belajar para guru agar terlibar dan berkembang secara personal dan profesional
dan seluruh masyarakat memberikan dukungan dan harapan yang tinggi. Jika seorang
kepala sekolah sudah dapat mengupayakan sekolah memenuhi kriteria diatas maka
bisa disebut kepala sekolah efektif dan sekolah yang dikelolanya disebut sukses
(succes full school).
Menurut Mulyasa (2003). Kriteria
kepemimpinan kepala sekolah yang efektif adalah sebagai berikut:
a.
Mampu
meberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik,
lancar, dan produktif.
b.
Dapat
menjalankan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
c.
Mampu menjalin
hubungan yang harmonis dengan masyarakat, sehingga dapat melibatkan mereka
secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
d.
Berhasil
menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan
pegawai lain di sekolah.
e.
Mampu bekerja
dengan tim manajemen sekolah.
f.
Berhasil
mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.[6]
Kepala sekolah merupakan motor
penggerak, penentu kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan
sekolah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan. Sehubung dengan MBS kepala
sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektifitas kinerjanya, kinerja
kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitanya dengan MBS adalah segala upaya yang
dilakukan dengan hasil yang dapat dicapai untuk mewujudkan tujuan pendidikan
secara efektif dan efisien.[7]
2.
Kepemimpinan
Pembelajaran Efektif
Kepemimpinan pembelajaran efektif
adalah kepemimpinan yang lebih memfokuskan/menekankan pada pembelajaran agar
lebih efektif. Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran efektif adalah memberikan
layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan pontensinya.
Kepemimpinan pembelajaran efektif sangat penting dan signifikan terhadap
peningkatan prestasi belajar siswa.
Kepemimpinan pembelajaran
menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila
didukung oleh:
a.
Figur kepala
sekolah yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai pemimpin
pembelajaran.
b.
Kultur
pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di
sekolah.
c.
Sistem/struktur
yang utuh dan benar, perilaku kepala sekolah, guru, dan karyawan berkontribusi
sangat signifikan terhadap peningkatan keefektifan pembelajar.[8]
Komponen-komponen kepemimpinan
pembelajaran meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, penilaian,
pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas
belajar disekolah. Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan di
sekolah karena mampu:
1.
Meningkatkan
prestasi belajar siswa secara signifikan.
2.
Mendorong dan
mengarahkan warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
3.
Memfokuskan
kegiatan-kegiatan warga sekolah untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan
sekolah
4.
Membangun
komunitas belajar warga dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah
belajar (learning scholl).
Dengan begitu tujuan kepemimpinan
pembelajaran efektif adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar terjadi
peningkatan prestasi belajar, kepuasan belajar, motivasi belajar,
keingintahuan, kreativitas, inovasi, jiwa kewirausahaan, dan kesadaran untuk
belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan, tekonologi, dan seni
berkembang dengan sangat pesat.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kepemimpinan pendidikan adalah
sebagai suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan mengerakkan
orang lain yang ada hubunganya dengan ilmu pendidikan, pelaksanaan pendidikan,
dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat efisien dan
efektif didalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan, dan pengajaran. Penulis
berpendapat bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan seorang
pemimpin untuk mempengaruhi, mendorong, dan menuntun orang lain atau kelompok
lain agar kegiatan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Gaya kepemimpin ada enam yaitu gaya
kepemimpinan otokratis, gaya kepemimpin demokratis, gaya kepemimpinan pseudo
demokratis, gaya kepemimpinan laissez fair, gaya kepemimpinan aliatif, gaya
kepemimpinan pembimbing.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofyan dan Muhammad Rohmandan. 2015. Manajemen Pendidikan:
Analysis dan Solusi Terhadap Kinerja
Manajemen Kelas dan Strategi
Pengajaran yang Efektif. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu
Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.
2007.
Kepemimpinan
Kepala Sekolah dalam meningkatkan sumber daya
Mulyadi, Hadi. 2010. Kepemimpinan
Kepala Sekolah dalam Mengembangkan
Budaya Mutu. Malang: UIN Maliki Press.
Mulyono, M, A, Education
Leadership, (Malang: UIN Maliki Press.
E, Mulyasa. 2005 Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
manusia di sekolah dasar Direktorat Tenaga Kependidikan. Jakarta
Rodliyah, St. 2015. Manajemen
Pendidikan. Jember: IAIN
Jember Press
__________. 2013. Pendidikan
dan Ilmu Pendidikan. Jember: STAIN Jember
Press.
__________. 2015. Manajemen Pendidikan Sebuah Konsep dan
Aplikasi. Jember:
IAIN Jember Press.
[1]
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan
sumber daya manusia di
sekolah dasar Direktorat Tenaga Kependidikan. (Jakarta,
2007). 4
[2] St.
Rodliyah, Manajemen Pendidikan, (Jember:
IAIN Jember Press, 2015), hlm 151-152.
[3] Muhammad
Rohmandan Sofyan Amri, Manajemen
Pendidikan: Analysis dan Solusi Terhadap Kinerja Manajemen Kelas dan Strategi
Pengajaran yang Efektif, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2015), hlm 13.
[4] St.
Rodliyah, Pendidikan dan Ilmu Pendidika, (Jember:
STAIN Jember Press, 2013), hlm 13
[5] St.
Rodliyah, Manajemen Pendidikan Sebuah Konsep dan Aplikasi, (Jember: IAIN Jember
Press,2015), 169-174
[6] H.
Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah
dalam Mengembangkan Budaya Mutu, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm
68-70.
[7] Mulyono,
M, A, Education Leadership, (Malang:
UIN Maliki Press, 2009), hlm 11.
[8] Mulyasa,
E, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar