Seleksi Media Pembelajaran
![]() |
| Sumber: dosenmuslim.org |
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada hakikatnya proses belajar
mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan
suatu dunia komunikasi tersendiri bagi guru dan peserta didik. Dalam proses
belajar mengajar seringkali terjadi komunikasi dan interaksi yang kurang baik
sehingga membuat peserta didik jenuh dan proses pembelajaran menjadi tidak
efektif dan efisien. Salah satu usaha
untuk mengatasi keadaan demikian ialah penggunaan media secara terintegrasi
dalam proses belajar mengajar.
Media merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan
kegiatan proses belajar mengajar. Karena beraneka ragamnya media tersebut,
maka masing-masing media mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Dalam
menggunakan media pembelajaran tidak semua media dapat dipergunakan. Media
pebelajaran yang ingin digunakan oleh guru, harus dipilih dan disesuaikan
dengan kebutuhan pembelajaran. Guru tidak hanya dituntut untuk tepat sasaran
dalam meyampaikan pelajaran, namun disaat yang sama guru juga dianjurkan agar
memilih media pembelajaran yang tepat. Sebab, fungsi media pembelajaran
bersifat membantu guru dan peserta didik dalam melakukan efektifitas waktu
pembelajaran dan penyajian yang menyenangkan agar diperoleh tujuan pembelajaran
yang ditetapkan. Untuk itu perlu memilih media pembelajaran dengan cermat dan
tepat agar dapat digunakan sacara tepat guna.[1]
B.
Rumusan Masalah
1. Apa faktor-faktor dalam pemilihan media pembelajaran?
2. Apa saja prinsip-prinsip dalam pemilihan media
pembelajaran?
3. Apa saja kriteria pemilihan media pembelajaran?
4. Bagaimana tiips dalam memilih media pembelajaran?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui faktor-faktor
dalam pemilihan media pembelajaran.
2.
Untuk mengetahui prinsip-prinsip
dalam pemilihan media pembelajaran.
3.
Untuk mengetahui kriteria pemilihan
media pembelajaran.
4.
Untuh
memahami tips dalam memilih media pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Faktor-faktor
Pemilihan Media Pembelajaran
Pada
tingkat yang menyeluruh dan umum, pemilihan media dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor berikut :
1. Hambatan
pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dan, fasilitas dan
peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia ( waktu
mengajar dan pengembangan materi serta media ), sumber-sumber yang telah
tersedia ( manusia dan material ).
2. Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi
pembelajaran beragam dari sisi tugas yang ingin dilakukan siswa, misalnya
penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian hubungan-hubungan, atau
penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi. Setiap kategori
pembelajaran itu menuntut perilaku yang berbeda-beda, dan media penyajian yang
berbeda-beda pula.
3. Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan
kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik, dan menggunakan
computer, serta karakteristrik siswa lainnya.
4. Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan (
preferensi lembaga, guru, dan pelajar ) dan keefektifan biaya.
5.
Pemilihan media sebaiknya
mempertimbangkan pula :
a. Kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus yang
tepat (visual dan audio).
b. Kemampuan mengakomodasikan respon siswa yang tepat (
tertulis, audio, dan kegiatan fisik ).
c. Kemampuan mengakomodasi umpan balik.
d. Pemilihan media utama dan media sekunder untuk
penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan dan tes (sebaiknya media
dan tes menggunakan media yang sama). Misalnya, untuk tujuan belajar yang
melibatkan penghafalan.
6.
Media sekunder harus
mendapat perhatian karena pembelajaran yang berhasil menggunakan media yang
beragam. Dengan penggunaan media yang beragam, siswa memiliki kesempatan untuk
menghubungkan dan berinteraksi dengan media yang paling efektif sesuai dengan
kebutuhan belajar mereka secara perorangan.[2]
B.
Prinsip-prinsip
Pemilihan Media Pembelajaran
Dari segi teori belajar, berbagai
kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam
pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:
1. Motivasi.
Harus ada kebutuhan, minat, atau keinginan untuk belajar dari pihak siswa
sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjakan tugas dan latihan. Lagi pula
pengalaman yang akan dialami siswa harus relevan dan bermakna baginya. Oleh
karena itu, perlu untuk melahirkan minat dengan perlakuan yang memotivasi dari
informasi yang terkandung dalam media pembelajarn itu.
2. Perbedaan
individual. Siswa belajar dengan cara dan tingkat kecepatan yang
berbeda-beda. Faktor seperti intelegensia, tinkat pendidikan, kepribadiannya,
dan gaya belajar mempengaruhi kemampuan dan kesiapan siswa untuk belajar.
Tingkat kecepatan penyajian informasi melalui media harus berdasarkan tingkat
pemahaman.
3. Tujuan
pembelajaran. Jika siswa diberitahukan apa yang diharapkan mereka pelajari
melalui media pembelajaran itu, kesempatan untuk berhasil dalam pembelajaran
semakin besar. Tujuan ini akan menentukan bagian isi yang mana yang harus
mendapatkan perhatian pokok dalam media pembelajaran.
4. Organisasi
isi. Pembelajaran akan lebih mudah
jika isi dan prosedur atau ketrampilan fisik yang akan dipelajari diatur
dan diorganisasikan ke dalam urutan yang bernakna. Siswa akan memahami dan
mengingat lebih lama materi pelajaran yang secara logis disusun dan
diurut-urutkan secara teratur.
5. Persiapan sebelum belajar.
Siswa sebaiknya telah menguasai secara baik pelajaran dasar atau memiliki
pengalaman yang diperlukan secara memadai yang mungkin merupakan persyaratan
untuk penggunaan media dengan sukses. Dengan kata lain, ketika merancang materi
pelajaran, perhatian harus ditujukan kepada sifat dan tingkat pemahaman siswa.
6. Emosi. Pembelajarn yang melibatkan emosi dan perasaan pribadi serta kecakapan
amat berpengaruh dan bertahan. Media pembelajaran adalah cara yang sangat baik
untuk menghasilkan respon emosional seperti takut, cemas, empati, cinta kasih,
dan kesenangan.
7. Partisipasi. Agar
pembelajaran berlangsung dengan baik, seorang siswa harus menginternalisasi
informasi, tidak sekedar diberitahukan kepadanya. Oleh karena itu belajar
memerlukan kegiatan. Partisipasi aktif oleh siswa jauh lebih baik daripada
mendengarkan dan menonton secara pasif.
Dengan partisipasi kesempatan lebih besar terbuka bagi siswa untuk
memahami dan mengingat materi pelajaran itu.
8. Umpan Balik. Hasil belajar dapat meningkat apabila secara berkala siswa diinformasikan
kemajuan belajarnya. Pengetahuan tentang hasil belajar, pekerjaan yang baik
atau kebutuhan untuk perbaikan pada sisi-sisi tertentu akan memberikan
sumbangan terhadap motivasi belajar yang berkelanjutan.
9. Penguatan (reinforcement). Pembelajran yang didorong oleh keberhasilan amat bermanfaat, dapat
membangun kepercayaan diri, dan secara positif mempengaruhi perilaku di
masa-masa yang akan datang.
10. Latihan dan pengulangan. Agar suatu
pengetahuan atau keterampilan dapat menjadi bagian kompetensi atau kecakapan
intelektual seseorang, haruslah pengetahuan atau keterampilan itu sering
diulang dan dilatih dalam berbagai konteks. Dengan demikian ia dapat tinggal
dalm ingatan jangka panjang.
11. Penerapan.
Hasil belajar yang diinginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk
menerapakan atau mentransfer hasil belajar pada masalh atau situasi baru. Tanpa
dapat melakukan ini, pemahaman sempurna belun dapat dikatakan dikuasai.[3]
Selain itu, kriteria pemilihan media
pembelajaran juga ada beberapa tahapan yaitu:
1.
Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Guru atau dosen
harus memahami pemilihan media pembelajaran. Sebab, media pembelajaran memiliki
peran dan kegunaan masing-masing. Ketapatan memilih media pembelajaran juga berpengaruh pada
sasaran, yakni peserta didik.
2.
Pemilihan media harus berdasarkan konsep yang jelas. Dalam artian, penggunaan
media tidak hanya untuk mengisi jam kosong guru atau sebagainya. Akan tetapi,
penggunaan media harus betul-betul mempertimbangkan ketetapan dan sasaran yang
ingin dicapai. Jika meninginkan siswa paham dan
mengerti sejarah tentang Rasululllah SAW, maka peserta didik dapat dilihatkan
film audio-visual yang mengisahkan Rasulullah SAW, bukan yang lainnya. Hal ini
penting, agar media tidak hanya dijadikan alat mengontrol guru yang malasuntuk
masuk kelas. Sehingga sswa hanya diberi tontonan semata tanpa memiliki tujuan, arah, dan konsep yang jelas.
3.
Pemilihan media harus disesuaikan dengan karakteristik siswa. Ketersesuaian
antara media dan karakter iswa menjadi penting untuk dipertimbangkan, sehingga
pembelajaran tidak membosankan, lebih bermakna, dan mempermudah proses transfer
pesan pembelajaran kepada diri siswa.
4.
Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajar siswa serta gaya dan kemampuan
guru. Dalam konteks ini, guru dituntut untuk mampu mengoprasionalkan media
dengan baik sesuai dengan gaya belajar siswa yang beragam.
5.
Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas, waktu yang
tersedia untuk kebutuhan pembelajaran.[4]
Adapun hal-hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran menurut Sanjaya menggunsksn
model ACTION., antara lain :
1. Acces, artinya media yang diperlukan dapat tersedia, mudah,
dan dapat dimanfaatkan siswa.
2. Cost, artinya media yang akan
dipilih atau digunakan, pembiayaannya dapat dijangkau.
3. Technology, artinya media yang akan
digunakan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya.
4. Interactivity, artinya media yang akan
dipilih dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Sehingga
siswa akan terlibat (aktif) baik secara fisik, intelektual dan mental.
5. Organization, artinya dalam memilih media
pembelajaran tersebut, secara organisatoris mendapatkan dukungan dari pimpinan
sekolah (ada unit organisasi seperti pusat sumber belajar yang mengelola).
6. Novelty, artinya media yang dipilih tersebut memiliki nilai
kebaruan, sehingga memiliki daya tarik bagi siswa yang belajar.[5]
C.
Kriteria
Pemilihan Media Pembelajaran
Beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam
memilih media yaitu :
1. Sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai. Media yang dipilih berdasarkan tujuan intruksional
yang telah ditetapkan secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari
dua atau tiga ranah kognitif, efektif, psikomotor. Tujuan ini dapat digambarkan
dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan atau dipertunjukkan oleh siswa,
seperti menghafal, melakukan kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik atau
pemakaian prinsip-prinsip seperti sebab dan akibat, melakukan tugas-tugas yang
melibatkan pemikiran pada tingkatan lebih tinggi.
2.
Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang
sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi. Media yang berbeda,
misalnya film dan grafik memerlukan simbol dan kode yang berbeda, dan oleh
karena itu memerlukan proses dan keterampilan mental yang berbeda untuk
memahaminya. Agar dapat membantu proses pembelajaran secara efektif, media
harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan
mental siswa.
3.
Praktis, luwes,
dan bertahan. Jika tidak tersedia waktu, dana, atau sumber daya lainnya untuk
memproduksi, tidak perlu dipaksakan. Media yang mahal dan memakan waktu lama
untuk memproduksinya bukanlah jaminan sebagai media yang terbaik. Kriteria ini
menuntun para guru atau instruktur untuk memilih media yang ada, mudah
diperoleh, atau mudah dibuat sendiri oleh guru. Media yang dipilih sebaiknya
dapat digunakan dimana pun dan kapanpun dengan peralatan yang tersedia di
sekitarnya, serta mudah dipindahkan dan dibawa ke mana-mana.
4.
Guru terampil menggunkannya. Ini merupakan
salah satu kiteria utama. Apapun media itu, guru harus mampu mnggunakannya
dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat media amat ditentukan oleh guru
yang menggunakannya, proyektor transparansi (OHP), proyektor slide dan film,
komputer, dan peralatan canggih lainnya tidak akan mempunyai arti apa-apa jika guru belum dapat menggunakannya dalam
proses pembelajaran sebagai upaya mempertinggi mutu dan hasil belajar.
5.
Pengelompokan
sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya
jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk
jenis kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil dan perorangan.
6.
Mutu teknis. Pengembangan
visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknis tertentu.
Misalnya, visual pada slide harus jelas dan informasi atau pesan yang
ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen lain.[6]
D. Tips dalam
Memilih Media Pembelajaran
Sebelum memutuskan untuk memanfaatkan media
dalam kegiatan pembelajaran di dalm kelas, hendaknya guru melakukan seleksi
terhadap media pembelajaran mana yang akn digunakan untuk mendampingi dirinya
dalam membelajarkan peserta didiknya. Berikut ini beberapa tips atau
pertimbangan-pertimbangan yang dapat digunakan guru dalam melakukan seleksi
terhadap media pembaelajaran yang akan digunakan.[7]
1. Menyesuaikan Jenis Media denganMateri Kurikulum
Sewaktu akan memilih jenis media yang akn
dikembangkan atau diadakan maka perlu yang diperrhatiakan adalah jenis materi
pelajaran yang mana yang terdapat di dalam kurkulum yang dinilai perlu
ditunjang oleh media pembelajaran. Kemudian, dilakukan telaah tentang jenis
media apa yang diniai tepat untuk menyajikan materi pelajaran yang dikehendaki
tersebut.
Sebagai contoh misalnya, pelajaran Bahasa
Arab, untuk kemampuan berbahasa mendengarkan atau menyimak (maharah istima’),
media yang lebih tepat digunakan adalah media kaset audio. Sedangkan untuk
kemampuan menulis atau tata bahasa, maka media yang lebih tepat digunakan
adalah media cetak. Sedangkan untuk mengajarkan kepada peserta didik tentang
cara-cara menggunakan organs of spech untuk menuturkan kata atau kalima
(pronounciation), mak media video akan lebih tepat digunakan.
2. Keterjangkauan dalam Pembiayaan
Dalam pengembangan atau pengadaan media pembelajaran hendaknya juga
mempertimbngakan ketersediaan anggaran yang ada. Kalau seandainya guru harus
membuat sendiri media pembelajaran, maka hendaknya dipikirkan apakah ada
diantara sesama guru yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk
mengembangkan media pembelajaran yang dibutuhkan. Kalau tidak ada, maka perlu dijajaki
berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan mediannya.
3. Ketersediaan Perangkat Keras untuk Pemanfaatan Media Pembelajaran
Tidak ada gunannya merancang dan mengembangkan media secanggih apapun kalau
tidak didukung oleh ketersediaan peralatan pemanfaatannya di kelas. Apa artinya
tersedia media pembelajaran online apabila, disekolah tidak tersedia perangkat
komputer dan fasilitas koneksi ke internet yang juga di dukung oleh Lokal Area
Network (LAN). Sebaliknya, pemilihan media pembelajaran sederhana(seperti
misalnya media kaset audio) untuk dirancang dan dikembangkan akan sangat
bermanfaat karena peralatan / fasilitas pemanfaatannya tersedia di sekolah atau
mudah diperoleh di masyarakat, selain itu sumber energi yang diperlukan untuk
mengoperasikan peralatan pemanfaatan media sederhana juga cukup mudah yaitu
hanya dengan menggunakan baterai kering.
Dari segi ekspertis atau keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan untuk
mengembangkan media sederhana seperti media kaset audio atau transparasi misalnya
tidaklah terlalu sulit untuk mendapatkannya. Tidaklah juga terlalu sulit untuk
mempelajari cara-cara perancangan dan pengembangan media sederhana.
4. Ketersediaan Media Pembelajaran di Pasaran
Karena promosi dan peragaan yang sangat
mengagumkan/ mempesona atau menjanjikan misalnya, sekolah langsung tertarik
untuk membeli media pembelajarn yang ditawarkan. Namun sebelum membeli media
pembelajrannya (program), sekolah harus terlebih dahulu membeli perangkat keras untuk pemanfaatannya.
Setelah peralatan pemanfaatan media pembelajarannya dibeli ternyata di antara
guru ada atau belum tanu bagaimana cara-cara mengoperasikan peralatan,
pemanfaatan media pembelajaran media pembelajaran yang akan diadakan tersebut.
Di samping itu media pembelajarannya (program) sendiri ternyata sulit
didapatkan di pasaran sebab harus dipesan terlebih dahulu untuk jangka waktu
tertentu.
Kemudian, dapat saja terjadi bahwa media
pembelajaran yang telah dipesan dan dipelajri, kandungan materi pelajarannya
sedikit sekali relevan dengan kebutuhan peserta didik (sangat dangkal).
Sebaliknya, dapat juga terjdi bahwa materi yang dikemas di dalam media
pembelajaran sangat cocok dari membantu mempermudah siswa memahami materi
pelajaran. Namun, yang menjadi masalah adalah bahwa media pembelajaran tersebut
sulit didapatkan di pasaran.
5. Kemudahan Memanfaatkan Media Pembelajaran
Aspek lain yang juga tidak kalh pentinnya
untuk dipertimbangkan dalam pengembangan atau pengadaan media pembelajaran
adalah kemudahan guru atau peserta didik memanfaatkannya. Tidak akan terlalu
bermanfaat apabila media pembelajaran dikembangkan sendiri atau yang
dikontrakkan pembuatannya ternyata tidak mudah dimanfaatkan, baik oleh guru
maupun oleh peserta didik. Media yang dikembangkan atau dibeli tersebut hanya
akan berfungsi sebagai pajangan di sekolah.[8]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pemilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan
faktor-faktor berikut: (1) Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi
faktor-faktor dan, fasilitas dan peralatan
yang telah tersedia
(2) Persyaratan isi,
tugas, dan jenis pembelajaran (3) Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan
kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik, dan menggunakan
computer
(4) Pertimbangan lainnya
adalah tingkat kesenangan.
Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran yakni:Motivasi, Perbedaan individual, Tujuan
pembelajaran, Organisasi
isi, Persiapan sebelum belajar, Emosi, Partisipasi, Umpan Balik, Penguatan
(reinforcement), Latihan dan pengulangan, Penerapan. Dan adapun
kriteria pemilihan media pembelajaran yaitu: Sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai, Tepat untuk mendukung isi pelajaran
yang sifatnya fakta, Praktis, luwes, dan
bertahan, Guru
terampil menggunkannya, Pengelompokan sasaran, Mutu teknis.
Tips dalam memilih media pembelajaran antara lain:
menyesuaikan jenis media dengan materi kurikulum, keterjangkauan dalam
pembiayaan, ketersediaan perangkat keras untuk pemanfaatan media pembelajaran,
ketersediaan media pembelajaran di pasaran, kemudahan memanfaatkan media
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. Media
Pembelajaran. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada:2016
Humaidi, Rif’an. Media
Pembelajaran Konsep dan Implementasi. Jember. STAIN
Jember
Press:2013.
Sanjaya, Wina. Perencanaan dan
Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta. Kencana
Prenada Media:2011.
Asnawir dan M. Basyiruddin Usman. Media
Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers:
2002.
Nurhasnawati. Media
Pembelajaran. Pekanbaru: Pusaka Riau:2011.
[1]
Rif’an Humaidi. Media Pembelajaran Konsep dan Aplikasi. (Jember:STAIN
JEMBER PRESS, 2013). Hlm. 67.
[3]
Ibid, 71.
[4]
Rif’an Humaidi, Media Pembelajaran Konsep
dan Implementasi (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 75.
[5]
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2011), 224.
7Asnawir dan
M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers. 2002,
hlm.124
[8]
Nurhasnawati, Media Pembelajaran. (Pekanbaru: Pusaka Riau, 2011). H lm.54.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar